Feature

Apakah Kita Terlalu Nyaman Dengan Bahaya Yang Kita Kenal ?

×

Apakah Kita Terlalu Nyaman Dengan Bahaya Yang Kita Kenal ?

Sebarkan artikel ini
Oleh ; Enasty Pratiwi Wulandari ST, MT Dosen Teknik Mesin Universitas Tamansiswa Palembang

Refleksi Bulan K3 Tentang Ilusi Rutinitas Dalam Pekerjaan Berisiko Tinggi

Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang berlangsung setiap 12 Januari hingga 12 Februari kembali menjadi momentum untuk meninjau ulang praktik keselamatan di tempat kerja.

Di balik slogan, spanduk dan berbagai kegiatan seremonial, terdapat persoalan mendasar yang kerap luput dari perhatian. Bagaimana pekerjaan berisiko tinggi perlahan dipersepsikan sebagai rutinitas yang terasa biasa.

Dalam praktik sehari-hari, bahaya sering dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan. Alat pelindung dikenakan, prosedur dijalankan dan izin kerja dipenuhi, namun kerap dilakukan secara mekanis.

Risiko tetap ada, tetapi tidak selalu disadari secara utuh. Di sinilah muncul apa yang dapat disebut sebagai ilusi rutinitas. Ketika bahaya tidak berkurang, tetapi tertutupi oleh kebiasaan kerja yang berulang.

Pekerjaan berisiko tinggi, seperti kerja di ketinggian, pengoperasian alat berat, pemindahan material berukuran besar, serta paparan energi dan tekanan tinggi memiliki satu ciri utama. Satu kesalahan kecil dapat berujung pada konsekuensi yang fatal.

Di Indonesia, jenis pekerjaan ini banyak dijumpai pada sektor konstruksi, pertambangan, manufaktur berat, kelistrikan, serta industri berbasis proses dan peralatan berat. Sektor-sktor tersebut berperan penting dalam pembangunan nasional, namun sekaligus menyimpan potensi bahaya yang tinggi dan melekat pada karakter pekerjaannya.

Data Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia menunjukkan bahwa persoalan kecelakaan kerja nasional belum mengalami perbaikan yang signifikan.

Sepanjang tahun 2023 tercatat 370.747 kasus kecelakaan kerja, dan angka tersebut meningkat menjadi 462.241 kasus pada tahun 2024, atau naik lebih dari 25 persen dalam satu tahun.

Meskipun data tahunan 2025 belum dirilis secara resmi, sebagai perbandingan. Namun berbagai laporan kecelakaan kerja yang muncul sejak awal tahun mengindikasikan bahwa tren risiko khususnya pada pekerjaan berisiko tinggi masih berlanjut dan belum menunjukkan penurunan yang berarti.

Gambaran tersebut juga tercermin di tingkat daerah. Di Sumatera Selatan, kecelakaan kerja fatal masih terjadi pada industri berbasis proses dan peralatan berat.

Pada 31 Maret 2025, seorang pekerja PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang dilaporkan meninggal dunia setelah terjatuh dari ketinggian sekitar 10 meter saat menjalankan tugas di area kerja.

Menjelang akhir tahun, pada 12 Desember 2025, seorang pekerja PT OKI Pulp and Paper Mills di Kabupaten Ogan Komering Ilir juga dilaporkan meninggal dunia setelah terjatuh ke dalam mesin penggiling kayu saat melakukan pemantauan operasional produksi.

Dua peristiwa yang trjadi di awal dan akhir tahun tersebut menunjukkan bahwa risiko serius tetap menyertai pekerjaan berisiko tinggi, termasuk pada aktivitas yang dalam praktik sering dipersepsikan sebagai rutinitas.

Dalam kondisi seperti ini, kewaspadaan cenderung menurun. Dalam perspektif risiko, ketika kemungkinan kejadian meningkat sementara tingkat keparahan dampaknya tetap berat, maka tingkat risikonya pun semakin tinggi.

Bahaya yang seharusnya berfungsi sebagai peringatan perlahan kehilangan daya kewaspadaannya, hingga kecelakaan terjadi tanpa benar-benar disadari.

Dalam konteks inilah kewaspadaan menjadi kunci utama. Prosedur keselamatan tetap ada, namun sering dijalankan sebagai kewajiban, tanpa kesadaran penuh bahwa potensi bahaya tetap ada.

Oleh karena itu, pengawasan, identifikasi bahaya dan penilaian risiko perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama pada pekerjaan yang bersifat rutin dan berisiko tinggi.

Evaluasi ulang terhadap prosedur kerja, izin kerja harian, serta briefing risiko sebelum pekerjaan menjadi langkah penting untuk memastikan sistem keselamatan tetap relevan dengan kondisi lapangan.

Sejalan dengan tema Bulan K3 Nasional, “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal dan Kolaboratif,” keselamatan kerja tidak dapat dipandang sebagai urusan teknis semata.

Yang dibutuhkan adalah ekosistem K3 yang benar-benar berfungsi, profesional dalam perencanaan, andal dalam penerapan serta kolaboratif dalam pengawasan dan pembelajaran dari setiap kejadian.

Tantangan kedepan bukan hanya menyediakan alat pelindung atau prosedur tertulis, tetapi memastikan bahwa setiap risiko terus dikenali, dievaluasi dan dikendalikan secara berkelanjutan, agar keselamatan benar-benar menjadi bagian dari kesadaran kerja sehari-hari.

You cannot copy content of this page