Peran Serta Forum Jurnalis Migas Sumsel
Pagi yang cerah Kamis 6 November 2025, ramai perahu kecil berjejer berhimpitan tak rapi di dermaga kayu yang terlihat masih kokoh, dan kini telah jadi pemandangan baru di Desa Sungsang IV.
Sesekali terdengar deru dan suara bising mesin speedboat berpadu dengan berhembusan angin yang datang dari muara sungai Musi membentuk irama alunan roda-roda kehidupan.

Dari kejauhan, terbentang hamparan Mangrove muda tampak menghijau berbaris rapi di tepian air. Di sanalah sekarang ribuan pohon hasil kerja bersama masyarakat dan industri energi berhasil menumbuhkan harapan baru.
Sejak 2023, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sungsang IV di Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan menggagas penanaman Mangrove untuk menahan abrasi yang mulai mengancam pemukiman.
Setahun kemudian, inisiatif itu diperkuat dengan dukungan SKK Migas dan Medco E&P Indonesia dengan menanam kembali ribuan bibit pada Juli 2024 dan September 2025.

“Kami menanamnya secara intens dilahan seluas lebih dari Tiga hektare. Program ini tidak hanya menjaga wilayah dari abrasi, tapi juga membuka peluang bagi warga sekitar,” ujar Abdullah Mustar Kepala LPHD Sungsang IV.
Dari kolaborasi tersebut, berhasil menyulap kawasan pesisir yang dulunya gersang kini menjelma menjadi hutan Mangrove muda. Selain berfungsi menahan arus sungai, kawasan ini mulai dimanfaatkan masyarakat sebagai kawasan wisata dan tempat edukasi lingkungan.
Bangganya, program konservasi yang dilakukan Medco E&P Indonesia bersama SKK Migas telah menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara produksi energi dan keberlanjutan lingkungan.
“Sejak 2024 kami telah menanam sekitar 33.000 pohon Mangrove di kawasan Sungsang IV. Program ini kami jalankan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan diluar PPKH. Dengan harapan dapat memberi manfaat jangka panjang bagi ekosistem dan masyarakat,” jelas Hirmawan Eko Prabowo Manager Field Relation & Community Enhancement Medco E&P Indonesia.
Tak jauh dari lokasi penanaman, Jumadi (51) pemilik jasa speedboot lokal yang kini telah menikmati dampak positif dari ramainya pengunjung yang datang ke desa Sungsang IV. “Sekarang banyak wisatawan datang. Biasanya mereka menyewa speedboat untuk ke lokasi Mangrove, jadi alhamdulillah sudah sangat membantu perekonomian keluarga saya,” katanya bersyukur.
Ia menuturkan, sebelum kawasan Mangrove dikembangkan, jasa transportasi air hanya mengandalkan penumpang warga setempat. Berkat ramainya kunjungan para wisatawan, roda perekonomian tumbuh di sepanjang jalur muara.

Selain transportasi, peningkatan aktivitas wisata juga berdampak pada UMKM lokal, seperti warung makan dan usaha oleh-oleh milik masyarakat disekitar ekowisata.
Meski sederhana, geliat ekonomi tersebut telah menjadi pertanda bahwa program lingkungan mampu membuka peluang kesejahteraan bagi masyarakat sekitar pesisir.
Membuktikan kolaborasi antara masyarakat, Pemerintah Desa dan perusahaan energi mampu membentuk ekosistem baru di Muara Sungsang. Akar-akar pohon Mangrove ditepian air kini bukan hanya untuk menahan arus, malah menjadi berkah dalam teguhkan semangat untuk menjaga alam.

Kegiatan ini menjadi fakta bahwa industri energi mampu berjalan beriringan dengan pelestarian alam dan pemberdayaan komunitas serta komoditas.
Langit di muara sungai telah menjadi saksi atas perubahan itu. Di antara rerimbunan daun muda Mangrove dan suara mesin perahu yang berlalu, Sungsang IV kini tumbuh sebagai contoh nyata bahwa energi dan alam serta masyarakat dapat menanam harapan bersama.
Feature : Asnaini Khamsin














