Palembang, BUKANISU.COM | Pemeriksaan kesehatan hewan kurban di Sumatera Selatan lebih ketat menjelang Idul Adha 2026. Tim veteriner bersama dokter hewan disiagakan untuk memastikan hewan kurban sehat dan layak konsumsi.
Pengawasan dilakukan melalui dua tahap pemeriksaan, yakni sebelum pemotongan dan setelah penyembelihan. Proses tersebut diterapkan di masjid serta lokasi pemotongan hewan kurban.
Pejabat Otoritas Veteriner Sumsel Jafrizal mengatakan pemeriksaan dilakukan untuk menjamin keamanan daging bagi masyarakat. Pengawasan juga bertujuan mencegah penyebaran penyakit hewan.
“Pemeriksaan dilakukan melalui tahapan ante-mortem dan post-mortem,” ujarnya, ahir pekan kemarin.
Bahwa kedua tahapan dinilai penting untuk memastikan kualitas hewan kurban.
Menurut Jafrizal, jumlah masjid di Sumsel mencapai sekitar 9.700 lokasi. Sementara tenaga dokter hewan yang tersedia hanya sekitar 225 orang.
Kondisi tersebut membuat pengawasan membutuhkan strategi tambahan. Pemerintah melibatkan panitia kurban dan petugas masjid melalui pelatihan khusus.
Pelatihan mencakup pemeriksaan kesehatan hewan, teknik penyembelihan halal, serta sanitasi. Langkah itu dilakukan agar standar kebersihan tetap terjaga.
“Kerja sama juga dilakukan dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Sumsel,” katanya.
Dokter hewan akan diturunkan sesuai wilayah domisili masing-masing.
Selain pemeriksaan, pengawasan penyakit mulut dan kuku turut diperketat. Pemerintah memantau lalu lintas hewan dari luar daerah seperti Bali dan Nusa Tenggara.
Vaksinasi dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit pada hewan ternak. Pemberian obat cacing juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan hewan.
Pemerintah turut menyoroti pentingnya standarisasi tempat penjualan hewan kurban. Pengawasan dilakukan untuk mengantisipasi pedagang musiman yang tidak terdata.
Masyarakat diimbau membeli hewan kurban di lokasi resmi yang memiliki surat kesehatan. Calon pembeli juga diminta memastikan usia hewan telah memenuhi syarat. (SSN)













